B. Halomoan Sianturi, S.H.
Advokat yang Peduli Melayani Profesional Lewat Persekutuan Doa

1346 dibaca
B. Halomoan Sianturi, S.H.

Beritanarwastu.com. Pria Batak ini dikenal Kristen yang taat dan advokat yang lurus dan “moralis”. Ia mengidolakan Yesus Kristus. Dulu ia mengidolakan seorang advokat senior yang tergolong hebat. “Saya dulu bercita-cita ingin seperti dia menjadi advokat, karena kemampuan hukumnya di atas rata-rata dan punya pengaruh, dan punya idealisme yang tinggi. Namun dalam perjalanan selanjutnya ia turut mengaminkan organisasi tandingan PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) dengan argumentasi dan alasan yang tentunya tidak dapat saya terima, dan mau menjadi kuasa hukum sejumlah koruptor,” ujar B. Halomoan Sianturi, S.H.

“Ini tentu membuat saya kecewa, karena ini mencederai idealisme dan integritas diri, brand beliau, meskipun jika dilihat dari ketentuan peraturan dan perundang-undangan tidak ada yang salah. Sejak itu saya tak mengidolakan dia lagi. Idola saya hanya Yesus. Yesus ternyata guru advokat atau pembela hebat lho. Kita baca saja dialog-dialog Yesus, seperti ditulis di Perjanjian Baru atau Kitab Injil. Kalau Yesus berbicara dengan para Imam dan orang Farisi, jawaban-jawaban Yesus lebih hebat dari jawaban advokat hebat,” cetusnya.

Misalnya, katanya, saat Yesus membela seorang pelacur yang nyaris dirajam dengan batu, juga saat Yesus ditanya soal Hari Sabat, jawaban Yesus lebih hebat dari jawaban advokat hebat, yang lebih hebat adalah jawaban Tuhan Yesus saat Pilatus mengajukan pertanyaan kepadaNya di gedung pengadilan. Halomoan Sianturi yang juga anggota Tim Pembela Kebebasan Beragama (TPKB) bersama Saor Siagian, S.H., M.Hum, menerangkan, sebagai seorang pengacara atau advokat ia selalu mensyukuri apa yang sudah ia terima dari Tuhan saat ini.   

                    “Dalam segi kekayaan harta, saya tak mau membanding-bandingkan diri dengan pengacara-pengacara yang kaya raya, karena nanti saya jadi stres memikirkan itu. Saya nikmati dan bersyukur saja apa yang sudah diberikan Tuhan kepada saya. Begini saja saya sudah heran, kok, dan saya merasa semua ini karena kemurahanNya, bukan karena kehebatan saya. Dalam hidup ini saya hanya bergantung pada kasih Tuhan, bukan bergantung pada backing-backing yang hebat, misalnya di bidang hukum, dalam mendampingi klien. Tapi jujur saja, sebenarnya saya juga punya backing yang tanpa tanding, yaitu Yesus,” tukas suami tercinta Evie Setyati dan ayah Natan Nicholas Sianturi  (15 tahun) ini. Halo pun pernah duduk sebagai pengurus bidang hukum di Forum Komunikasi Kerukunan Umat Kristen Depok (FKKUKD) di Kota Depok, Jawa Barat.  

            “Saya pun di bidang hukum bekerja dengan argumentasi hukum dan bekerja profesional, maksimal, jujur dan selalu awali dengan doa,” terang Halomoan yang pernah menjadi salah satu Ketua DPC Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Kota Depok. Pria yang awalnya bercita-cita menjadi insinyur pertanian, namun kemudian menjadi kepala bagian hukum di sebuah bank swasta dan berkiprah di perbankan lebih dari 10 tahun, di perusahaan finance lebih dari dua tahun, di perusahaan sekuritas lebih dari dua tahun, dan di perusahaan-perusahaan investasi dan otomotif.   

Halo, begitu ia akrab dipanggil, juga seorang advokat yang peduli pada aktivitas rohani. Buktinya, ia kini memimpin sebuah Persekutuan Doa Bellagio di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Acara ibadahnya diadakan setiap Jumat siang bagi karyawan, pengusaha atau professional yang berkantor di kawasan elite Jakarta itu. Menurutnya, bersekutu bersama sesama saudara seiman itu sangat penting, agar saling mengasihi, dan bisa memuji Tuhan bersama di tengah kesibukan berkarier.

Halo pernah berdebat sengit dan mengkritik seorang pengacara senior terkenal, tentang penghapusan remisi bagi terpidana korupsi, terorisme dan narkoba di acara Indonesian Lawyers Club (ILC) di TV One beberapa tahun lalu. Saat berbicara soal politik, ia pernah menuturkan, “Bapak saya dahulu salah satu tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia) di Muncar, Banyuwangi, dalam memperjuangkan idealismenya beliau menghabiskan uangnya tanpa menuntut kembali (kick back) dari partai tersebut.”

“Kalaupun nantinya saya mau aktif di partai politik, paling banter saya hanya mau duduk sampai sekjen saja dan tetap tidak akan mencalonkan diri jadi caleg ha…ha. Kerinduan saya hanya untuk dapat turut menentukan hitam putihnya sebuah parpol, dan dapat menentukan persyaratan caleg yang akan bertanding,” terang Halo yang beribadah di GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Pelita Hidup, Kota Depok.

Menurut Halo yang duduk  sebagai salah satu pengurus Jaringan Kristen Depok (JKD) ini, ada orang masuk ke sebuah parpol atau ingin jadi caleg orientasinya ingin mencari jaringan bisnis atau berdagang. “Jadi orientasinya bukan berjuang bagi kepentingan rakyat, bangsa dan negara, memang unsur kebanggaan bagi dirinya jika terpilih tetap harus ada, yang penting jangan hanya berpikir sebagai mata pencaharian. Apabila ada orang terjun jadi caleg dengan motivasi yang salah, maka jika tidak terpilih pasti stres berat,” ujar lulusan Fakultas Hukum UKI, Jakarta, yang kini memimpin Kantor Hukum HSP Law Firm (Law Firm Halomoan Sianturi & Partners).

Anggota Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) dan anggota DPC PERADI Jakarta Selatan yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 15 Mei 1960 ini menuturkan, seharusnya seseorang itu sebelum terjun berpolitik atau jadi caleg harus punya pandangan setidaknya bahwa ia ingin berjuang bagi kepentingan rakyat. Misalnya, kalau ia Kristen harus punya pemikiran untuk memperjuangkan kebebasan beribadah bagi umat Kristen dan berjuang bagi kesejahteraan rakyat dan harus berani menghadapi kelompok besar yang ada, dan siap dengan risiko kehilangan kursi atau jabatan yang sudah diduduki tersebut. 

Berita Terkait