Pdp. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M.
Aktivis Gereja yang Peduli Persoalan Bangsa

692 dibaca
Pdp. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M.

Beritanarwastu.com. Pdp. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M. yang merupakan pencetus Forum Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (FBTII) mengharapkan agar Presiden baru RI Ir. H. Joko Widodo bisa memimpin bangsa ini agar semakin makmur, sejahtera dan adil ke depan. Katanya, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 telah berakhir dengan lancar, damai dan aman, meskipun dulu ada gugatan dari salah satu pasangan capres ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) dianggap tak adil.

              “Terlepas dari sengketa hukum itu, kita harapkan agar para elite politik bangsa ini bisa bersikap bijaksana seusai Pilpres 2014,” tegasnya. Menurut Lukas yang tinggal di Bandung, dan merupakan seorang pendeta pembantu (Pdp.) di gerejanya, Pilpres 2014 sudah berlangsung dengan baik dan lancar, dan itu harus kita syukuri sebagai penyertaan Tuhan. Dan, kata pria yang juga bergelar “Raden Tumenggung” (RT) ini, kita meyakini bahwa Tuhan yang menetapkan pemimpin bagi bangsa ini melalui Pilpres 2014 lalu.

              Pria yang masih kuliah di STT Theologia The Way, Jakarta, S2 di Universitas Tarumanegara, Jakarta dan S2 Fakultas Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, ini menuturkan, Pilpres 2014 adalah event politik yang paling menarik di Indonesia, karena partisipasi masyarakat begitu tinggi. “Masyarakat banyak yang ikut mencoblos di Pilpres 2014, itu luar biasa,” ujar lulusan Fakultas Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta ini.

                Menurut Relawan Jokowi-JK dari Jasmed (Jaringan Sosial Media) ini, warga gereja yang ada di negeri ini harus ikut menciptakan suasana yang kondusif setelah Pilpres 2014 berakhir. “Mari kita berdoa untuk bangsa ini. Mari pula kita doakan Presiden RI baru serta para elite politik negeri ini agar diberikan Tuhan hikmat dan kebijaksanaan, sehingga ke depan bangsa ini semakin baik, rukun, sejahtera dan adil. Sekalipun di Pilpres 2014 lalu rakyat kita terbelah karena berbeda sikap dan pilihan terhadap dua pasangan Capres-Cawapres RI, itu lumrah. Dan itu merupakan dinamika berdemokrasi. Sekarang kita harus kembali hidup rukun dan damai,” ujar pria Karo ini.

                “Lupakan salam satu jari atau dua jari. Mari kita tampil dengan salam tiga jari (Persatuan Indonesia, seperti sila ke-3 di Pancasila). Kalau bangsa kita bersatu, hidup rukun dan damai, maka segala persoalan akan gampang diatasi, dan Tuhan pun akan memberkati bangsa ini,” paparnya. Pada Jumat, 15 Agustus 2014 lalu di Menara Gracia, Jakarta Selatan, FBTII yang dipimpinnya telah mengadakan sebuah ibadah syukur atas pelaksanaan Pilpres 2014 yang berjalan  damai dan lancar. Tujuan ibadah ini, ujarnya, untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan  dalam melindungi negeri ini, sehingga tidak terjadi kekacauan atau konflik di Pilpres 2014.

                Tak hanya itu, seusai ibadah FBTII mengadakan diskusi “Refleksi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Kemerdekaan RI.” Diundang pembicara Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi S., M.M. (Ketua Umum Sinode Gereja Gerakan Pantekosta dan mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI), Dr. Victor Silaen, M.A. (pakar politik dari Universitas Pelita Harapan, Kota Tangerang) dan moderator Jonro I. Munthe (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU). “Ketiganya kami undang, karena merupakan representasi dari tokoh-tokoh Kristen yang tahu persoalan sosial, politik dan gereja. Mereka mampu memberi pencerdasan politik selama ini terhadap umat,” pungkasnya.

                Menurut Lukas, dengan pengadaan acara ini, kita bisa melihat potret Indonesia dari perspektif aktivis gereja, pengamat politik, media dan orang yang pernah berada di lingkaran kekuasaan agar masyarakat kita semakin cerdas dan bijaksana.  “Presiden RI baru kita harapkan bisa melihat sejarah perjalanan bangsa ini, sehingga ke depan bisa dilakukan terobosan-terobosan baru untuk kebaikan bangsa kita ke depan. Pemimpin bangsa ini, tentu kita doakan, kita dukung, namun kita juga perlu awasi kebijakan-kebijakannya agar tetap berpihak kepada rakyat, termasuk memperhatikan persoalan warga gereja,” cetusnya.

                FBTII, kata Lukas Kacaribu, ke depan tak berhenti hanya mengadakan acara ibadah dan seminar itu, tapi akan mengadakan acara-acara diskusi dengan topik menarik yang sedang hangat di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. “Kita mengharapkan bangsa ini agar semakin sejahtera, makmur dan berwibawa di mata dunia internasional. Kita pun mengharapkan agar warga gereja semakin cerdas di dalam menyikapi politik, sehingga di masa-masa mendatang bisa menjadi garam dan terang serta menjadi berkat bagi Indonesia tercinta,” tegasnya.

                Sekadar tahu, Lukas Kacaribu adalah figur tokoh muda Kristiani yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Masa kecilnya di Tanah Karo, Sumatera Utara, ia harus bekerja keras dengan memelihara beberapa ekor babi agar bisa membayar uang sekolah, lantaran kehidupannya saat itu memprihatinkan. Bahkan, ia pernah menjadi kondektur bus jurusan Depok-Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sembari kuliah, serta pernah menjadi office boy di sebuah perusahaan bertaraf internasional.

                Di sisi lain, saat itu ia pun mahasiswa yang aktif di Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) LLC IISIP. Tak heran, kalau jiwa penginjilannya begitu kuat. Sekarang Lukas sudah sukses sebagai pengusaha muda yang bergerak di bidang pengobatan herbal. Kesuksesannya itu tak gampang diraihnya. Ia meraih kesuksesan itu dengan kerja keras, disiplin tinggi dan tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan. Ia berprinsip, hidup yang sulit ini harus dihadapi dengan cerdik, tulus dan selalu mengucap syukur. Orang yang selalu bersandar kepada Tuhan, katanya, pasti akan ditolong oleh Tuhan, serta diangkat menjadi kepala dan bukan menjadi ekor.  

Berita Terkait