Anak Allah Versus Anak Dunia (Refleksi Atas Pembunuhan Hamba Tuhan Melinda Zidemi)

* Oleh: Betty Bahagianty, S.Sos 274 dibaca
Calon pendeta Melinda Zidemi semasa hidupnya.

Beritanarwastu.com. Tidak pernah disangka calon pendeta, Melindawati Zidemi (24 tahun) bahwa hari Selasa, 26 Maret 2019 lalu adalah hari terakhir baginya. Melinda ditemukan tewas di perkebunan kelapa sawit di daerah Ogan Kemering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Diduga sebelum dibunuh, Melinda sempat akan diperkosa. Namun, dari pengakuan para pelaku, hal itu urung dilakukan karena ternyata Melinda tengah datang bulan, jadi hanya dicabuli. Saat ditanya lebih lanjut apa yang melatarbelakangi perbuatannya, para pelaku tergoda oleh kecantikan gadis asal Nias (Sumatera Utara) itu, dan akhirnya mereka sepakat untuk merencanakan perbuatan jahat

      Melinda adalah seorang lulusan Sekolah Tinggi Teologi Injili (STTI) Palembang. Setelah lulus dia ditugaskan di wilayah OKI. Rencananya, pada Juni 2019 mendatang ia akan melangsungkan pernikahan. Memang tak satupun manusia yang tahu kapan ajal akan menjemput, termasuk bagi Melinda. Gadis muda asal Nias itu sejak awal memang mengabdikan hidupnya untuk bekerja di ladang Tuhan. Jalan hidup memang tidak ada yang bisa menebaknya. Kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap kita dan tak satupun yang mampu untuk menolaknya. Atau dengan kata lain, setiap kita yang ada di dunia sejatinya hanya menunggu giliran saja. Hidup bukan soal lama atau sebentar ada di dunia ini. Melainkan, apakah hidup kita ini diisi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk sesama dan menyenangkan hati Allah.

      Banyak orang yang tidak tahu dan tidak mengerti akan tujuan hidupnya. Atau bisa jadi orang asal hidup saja, itu sudah cukup. Maksudnya adalah bekerja saban hari, dapat uang, bergaul dengan sesama, keluarga tercukupi, pergi ke gereja dan tidak jahat terhadap orang lain dan setia memberi persepuluhan (kalau iya). Padahal, hidup bukan soal berbuat baik dan perbanyak amal ibadah. Kalau definisinya hanya sebatas itu, lalu apa bedanya kita dengan orang dunia. Mereka bahkan melakukan hal-hal yang jauh lebih hebat dari kita.

      Padahal sejatinya kita yang diciptakan segambar dengan rupa Allah itu berarti kita adalah anakNya. Kita yang tidak layak tapi dilayakkan untuk menerima anugerah Tuhan. Tentu saja menjadi anak Allah sudah pasti beda dengan anak dunia. Pertama, menjadi anak Allah adalah hak istimewa dan terbesar dari keselamatan kita (Yohanes 1:12). Kedua, menjadi anak Allah itu artinya kita percaya kepadaNya dan pengharapan akan kemuliaanNya serta menjadi ahli warisNya (Galatia 4:7). Ketiga, bersedia dipimpin oleh Roh Kudus (Roma 8:14).

      Sebab apabila setiap kita kehilangan tujuan hidup dalam Tuhan, maka besar kemungkinan akan terjadi penyelewengan, pelecehan dan penyimpangan. Di sini ditekankan, bahwa orang yang sungguh-sungguh dilahirkan kembali dari Allah tidak mungkin mempunyai cara hidup yang berdosa. Karena, hidup Allah tidak dapat hadir di dalam hidup mereka yang berbuat dosa (1 Yohanes 1:5-7). Oleh sebab itu, kelahiran baru menghasilkan kehidupan rohani yang mendatangkan hubungan berkesinambungan dengan Allah secara terus menerus.

      Oleh karenanya, jika ada ajaran yang mengatakan bahwa seseorang tidak perlu bersekutu dengan Allah, boleh melakukan dosa (pekerjaan iblis), mengasihi dunia dan merugikan orang lain tetap masuk surga, jelas itu adalah sesat. Ciri anak Allah yang sejati, kasih Allah yang ditunjukkannya dengan melakukan segala perintah Tuhan (1 Yohanes 5:2). Lantas, sudahkah kita betul-betul telah menjadi anak Allah yang sejati atau memilih menjadi anak versi dunia. Semua pilihan ada di tangan kita.

 * Penulis adalah jurnalis Majalah NARWASTU, anggota PERWAMKI dan lulusan Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta.

Berita Terkait