Gereja KGPM Pulomas Setelah 42 Tahun Berdiri
Harus Dirubuhkan Pemkot Jakarta Timur

938 dibaca
Gereja KGPM Pulomas, Jakarta Timur, tampak dari jauh dan akan dirubuhkan.

Beritanarwastu.com. Gereja KGPM (Kerapatan Gereja Protestan Minahasa) Sidang Jemaat Daniel, Pulomas, Jakarta Timur,  sebenarnya sudah berdiri sejak 42 tahun lalu. Semasa Gubernur DKI Jakarta dijabat Ali Sadikin, tempat ibadah tersebut dimaksudkan sebagai tempat pembinaan rohani umat Kristen di Kompleks Pacuan Kuda itu. Namun, baru-baru ini kompleks tersebut harus dirubuhkan oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur, karena dianggap lahan tempat ibadah dan asrama bagi kaum joki itu adalah tanah milik negara. Dan kabarnya akan dibangun di situ gedung perkantoran dan perumahan elite. Tak ayal, keadaan itu membuat jemaat KGPM yang ada sekitar 100 jemaat di situ harus siap-siap untuk pindah.

Gembala Jemaat KGPM Pulomas, Pdt. Dr. Jimmy M.R. Lumintang, M.A., MBA yang dikenal pula Rektor STT IKAT, Jakarta, menerangkan, ia sudah 30 tahun lebih melayani jemaat di situ. Gereja itu awalnya didedikasikan tokoh Minahasa terkenal, Alex Kawilarang agar bisa dipakai sebagai tempat berkumpul orang Manado (Minahasa) plus tempat beribadah bersama. “Banyak orang Manado kalau sampai di Jakarta, datang dulu ke sini, karena di sini (KGPM Pulomas) hubungan antara orang Minahasa kental dan akrab,” ujar Pdt. Jimmy Lumintang.

Gereja KGPM pertama kali berdiri pada 1933 silam di Manado, Sulawesi Utara. Tokoh-tokoh Manado terkenal yang dulu aktif beribadah di gereja ini, antara lain Samuel Ratulangi. Dan KGPM termasuk pula sinode yang tergabung sebagai anggota PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Tak heran, saat Gereja KGPM Pulomas akan dirubuhkan bersamaan dengan rumah-rumah asrama yang ada di sekitarnya, pimpinan PGI Wilayah DKI Jakarta dan PGI Pusat pun ikut berbicara agar gereja tersebut jangan dirubuhkan, karena itu tempat pembinaan spiritual yang punya nilai sejarah.

Menurut Pdt. Jimmy Lumintang yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU”, Majelis Jemaat KGPM yang selama ini melayani secara kolektif kolegial, sudah berjuang juga dengan berbagai cara agar tempat ibadah itu tidak dirubuhkan, dan ada pendekatan ke Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta, anggota DPRD DKI Jakarta, tokoh-tokoh gereja dan Pemerintah Kota Jakarta Timur. Dan semua berproses. “Teman-teman di sini berjuang dan berdoa. Kiranya Tuhan mendengar doa-doa jemaat di sini,” ujar Pdt. Jimmy Lumintang, yang awalnya sangat kecewa dengan pembongkaran itu, namun akhirnya dia harus menerima keadaan itu.

Adapun pimpinan Majelis Sidang KGPM Pulomas saat ini, yakni Ketua Pdt. Jimmy M.R. Lumintang, Penatua Herdy Rattu, S.Th (wakil ketua), Diaken Maya Rori, S.Sos (sekretaris) dan Diaken Junior Soleran (wakil sekretaris). Sedangkan penasihat, yakni Penatua Tuty Supit-Turangan, Penatua Ir. Indra Supit, M.Div, M.Th, Penatua Dra. Maya Mendur dan Pdt. Feba Affan. Menurut Pdt. Jimmy Lumintang, apapun nanti kebijakan Pemprov DKI Jakarta terhadap tempat ibadahnya, dan akan beribadah di mana, mereka akan menerima, dan akan beribadah di manapun.

                Pada Kamis pagi, 5 Mei 2016 lalu, Pdt. Jimmy Lumintang dan jemaat KGPM Pulomas mengadakan ibadah oikoumene dalam memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Dalam acara ibadah itu diundang Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos untuk menyampaikan refleksi dan motivasi, sedangkan doa berkat oleh Pdt. Jimmy Lumintang. Dalam ibadah itu, Jonro Munthe mengatakan, ia teringat sejarah pada 21 Mei 1998 lalu, saat itu Hari Kenaikan Yesus, namun ketika itu juga penguasa Orde Baru yang otoriter dan sudah bertahta 32 tahun, Presiden H.M. Soeharto lengser dari kursinya setelah diturunkan mahasiswa dan rakyat.

“Apakah turunnya Pak Harto itu kebetulan. Tak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup kita orang percaya. Karena semua di bawah kendaliNya. Tuhan yang mengatur kehidupan kita. Demikian juga pengalaman iman jemaat KGPM Pulomas, saat kita merayakan Hari Kenaikan Yesus, di satu sisi tempat ibadahnya mau dirobohkan, dan kini tak jelas mau beribadah di mana. Kita harus teguh dalam iman, bahwa Tuhan punya rancangan damai sejahtera bagi setiap orang percaya. Saya yakin jemaat di sini terus berdoa agar Tuhan memberikan jalan keluar terbaik, dan kita imani bahwa Tuhan punya rencana indah bagi jemaat KGPM Pulomas,” ujar Jonro Munthe.

Jonro Munthe menuturkan, dalam hidup ini kadang Tuhan izinkan sesuatu pengalaman yang memprihatinkan atau pahit dalam hidup orang percaya. Namun itu bagian dari perjalanan iman orang percaya agar tetap setia dan taat kepadaNya. “Tuhan itu bekerja dalam suka dan duka untuk kebaikan umatNya. Karena itu, penting kita merenungkan Roma 8:28 bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Yeremia 29:11 mengatakan, rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangkan kecelakaan. Juga di Yesaya 41:10 ditulis, Tuhan akan meneguhkan, menolong, memegang tangan kanan kita dan memberi kemenangan bagi setiap orang percaya,” katanya.

Karena itu, kata Jonro Munthe, seperti ditulis di Injil Lukas 24:50-53, ketika Yesus naik ke surga, murid-muridNya tidak merasa ketakutan, malah mereka bersukacita dan terus memuliakan Tuhan. Dan ditulis lagi di Yohanes 14:1-2, kita harus percaya kepada Allah dan percaya kepada Yesus, karena Dia naik ke surga untuk menyediakan tempat tinggal bagi setiap orang percaya. “Sebab itu, seperti ditulis di Filipi 4:4, kita harus bersukacita senantiasa, karena itulah yang diinginkan Tuhan dari kita. Jadi tetap sabar dan selalu bersyukur, sekalipun tempat ibadah KGPM akan dirubuhkan. Kita doakan agar Pemprov DKI Jakarta bijaksana dan bisa memberi tempat ibadah yang baru,” ujarnya.

Seusai doa berkat dipanjatkan Pdt. Jimmy Lumintang, Rektor STT IKAT ini dari mimbar kepada jemaatnya menyampaikan, bahwa Jonro I. Munthe adalah seorang wartawan senior di kalangan media Kristen. “Pak Jonro Munthe yang punya kepedulian untuk mengorbitkan tokoh-tokoh Kristen ke tingkat nasional agar semakin dikenal banyak orang. Kita doakan Majalah NARWASTU agar terus diberkati Tuhan di dalam memberitakan Injil dan mengkritisi setiap persoalan yang terjadi di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Terima kasih buat Pak Jonro yang sudah memberitakan Firman Tuhan di jemaat ini,” ujarnya. Setelah ibadah, jemaat makan siang bersama dengan makanan khas Minahasa, seperti rica-rica dan ikan goreng sambal. KM

Berita Terkait