Ketika PGLII Menyoal Eksistensi Pancasila

501 dibaca
Lambang Pancasila.

Beritanarwastu.com. Keberadaan Pancasila sering dilupakan oleh banyak orang sebagai dasar negara Indonesia. Padahal jika hal itu dibiarkan, maka bisa jadi ancaman bagi stabilitas bagi kehidupan berbangsa. Sebagai salah satu lembaga keumatan Kristen, Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang menaungi banyak sinode gereja dan lembaga Kristen, juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan NKRI sebagai wujud dari nilai kesatuan dan persatuan bangsa.

Sehubungan dengan itu, Komisi Hukum, HAM dan Advokasi PP PGLII dalam diskusi bulanan yang mengangkat tema “Pancasila  Sebagai Civil Religion” pada Jumat, 3 Juni 2016 lalu di MDC-Wisma 76 Slipi, Jakarta Barat, menghadirkan narasumber Syaiful Arif.  Syaiful yang dikenal sebagai peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) mengemukakan mengenai Pancasila. Menurutnya, pertama, Pancasila sebagai nilai-nilai kultural. Kedua, Pancasila sebagai dasar yang meruntuhkan bangunannya sendiri, artinya jika salah satu saja sila dari Pancasila hilang, maka akan timpang. Ketiga, Pancasila sebagai ideologi sosial dan lain sebagainya.

 Jadi Pancasila dinilai sebagai dasar negara yang tepat bagi Indonesia. “Misalnya saja Ketuhanan Pancasila, artinya itu tidak meniadakan Ketuhanan yang lain. Maka Pancasila juga merupakan jalan tengah untuk mengembangkan nilai toleransi antara negara dan agama. Tapi tidak mengagamakan negara. Negara juga memelihara nilai tolerasi, tapi bukan mengintervensi agama,” jelas penulis buku Falsafah Kebudayaan, Nilai dan Kontradiksi Sosialnya itu.

 Peneliti yang juga merupakan dosen kompetensi Pascasarjana Islam Nusantara STAINU, Jakarta, ini menambahkan, bahwa Pancasila sebagai civil religion, artinya Pancasila sebagai pemahaman sebagai agama berbangsa dan bernegara. Sebab bersumber pada nilai-nilai ke-Tuhan-an dan menyimpan nilai-nilai kesipilan atau kemanusiaan dari semua agama yang ada.

Diskusi yang dihadiri oleh para tokoh dan pengurus PGLII, seperti Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII), Y. Deddy A. Madong, S.H. (Ketua III PGLII), Rhesa N. Sigarlaki, S.H. (Komisi Advokasi, Hukum dan HAM PP PGLII), Pdt. Pudjo dan para pengurus lainnya ini berjalan dinamis dan menarik.  “Rencananya diskusi seperti ini akan digelar secara rutin setiap bulan,” terang Y. Deddy A. Madong, S.H. kepada Majalah NARWASTU di sela-sela acara tersebut. BTY

 

Berita Terkait