Ir. Robert Robianto
Mencerdaskan Anak Bangsa Melalui BPK Penabur

1853 dibaca
Ir. Robert Robianto

Beritanarwastu.com. Tak bisa dipungkiri BPK Penabur kini sudah menjadi ikon sekolah Kristen yang fenomenal. Banyak prestasi yang ditorehkan siswa-siswinya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sukses BPK Penabur ini, tentu saja tak bisa dilepaskan dari manajemen dan kepemimpinan di BPK Penabur. Salah satu tokoh penting di BPK Penabur yang selama ini tak asing lagi adalah Ir. Robert Robianto. Sebelumnya Robert sudah dipercaya sebagai Ketua BPK Penabur DKI Jakarta, dan sejak Oktober 2014 lalu ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Penabur.

                Sekadar tahu tentang perjalanan hidupnya, Robert Robianto lahir dari keluarga cukup sederhana di kota Serang, Banten, 29 Mei 1958 lalu. Keteguhan hati, kerja keras, dan kejujuranlah yang menjadi modalnya, sehingga ia berhasil seperti sekarang. Ayahnya hanya sopir bus, dan ibunya hanya ibu rumah tangga. “Kami sekeluarga sering bergumul untuk makan setiap hari. Pergumulan kami dulu, yaitu apa yang harus kami makan hari ini. Masa kecil saya dulu sulit,” kenang Ketua Pembina YPTK Maranatha, pengelola Universitas Kristen Maranatha itu, terharu.

     Anggota Pembina YPTK Krida Wacana (UKRIDA) ini adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Saat sekolah ia menyenangi mata pelajaran Matematika. Dulu di Serang, Robert kecil melalui hari-harinya dengan giat belajar. Saat bersekolah ia kerap menjadi bintang kelas. Keberuntungan tiba pada dirinya tatkala ia diterima di SMAK 1 BPK (Badan Pendidikan Kristen) Penabur. “Saya nggak menyangka dari keluarga miskin, kok, bisa masuk di SMAK 1,” kenang Wakil Ketua Umum BPP (Badan Pemberdayaan Perekonomian) BPMSW GKI (Gereja Kristen Indonesia) Sinode Wilayah Jawa Barat ini.

       Setelah lulus SMA ia sempat bingung, karena tak punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Setahun ia tak bisa kuliah. Terpaksa ia bekerja. “Urat malu saya sudah hilang. Orang butuh makan, kok, jadi apa saja yang menghasilkan uang saya kerjakan. Yang penting halal. Mulai dari membersihkan lantai gereja, cuci motor pendeta, sampai menjaga toko. Saya lakukan tanpa keluh kesah,” ujar anggota Pembina Yayasan KAUM (Mentawai Korban  Tsunami) ini.

       Kemudian setahun bekerja, baru ia bisa kuliah. Karena kebaikan Tuhan, ia diterima di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Sejak kuliah ia tetap nyambi kerja. Robert pernah jadi guru privat. Nasihat-nasihat dari orangtuanya yang sampai kini ia pegang teguh adalah, kerja keras dan jujur. Selanjutnya setelah lulus kuliah ia bekerja di perusahaan multinasional PT. USI Jaya. Lalu, suatu ketika ia mendapat tawaran tes dari perusahaan komputer IBM. Lantas ia terbang ke Hongkong untuk mengikuti tes management development yang diikuti ratusan orang dari berbagai negara. Tak disangka, ia berhasil dalam tes tersebut.

      Lantaran kegigihan, keuletan dan doa-doanya yang tak pernah putus dipanjatkan kepada Tuhan, berkat  Tuhan kini sudah nyata di dalam hidupnya. Kerja keras dan keteguhannya menghasilkan buah. Ia sekarang tercatat sebagai Direktur Utama PT. Binareka Tatamandiri, perusahaan server (multiuser) komputer yang join dengan IBM. Robert pun memegang kendali sebagai direktur dan komisaris di berbagai perusahaan multinasional. Sekadar tahu, selain pernah dipercaya sebagai Ketua BPK Penabur DKI Jakarta, Robert pun mantan Ketua Umum Pengurus Harian Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia, karena ia dinilai sukses memimpin BPK Penabur. Dan kini ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Penasihat MPK.

      Menurutnya, ketika ia merenung akan makna hidup ini, akhirnya ia meyakini bahwa ada invisible hand (tangan yang tak terlihat) yang campur tangan di dalam hidupnya. “Itulah tangan Tuhan. Dan, saat saya pelajari pun invisible hand ternyata ada,” kata suami tercinta Anita Adidjaja, yang punya tiga anak, Caroline Robianto, Clara Janice Robianto dan Christopher Robianto ini.

     Robert yang juga Ketua Umum Pengurus LPTTI (Lembaga Pendidikan Tinggi Teologia Indonesia) mengatakan, “Saya menyerahkan hidup saya ke tangan Allah. Hidup saya seperti air sungai yang mengalir. Allah yang menentukan kecepatan aliran air itu. Kalau Dia yang maha kuasa menyuruh saya berhenti, saya berhenti. Terserah Dia mengatur hidup kita.”

Mengenai aktivitasnya di bidang pendidikan, Robert berkata, “Bagi saya, terjun ke dunia pendidikan adalah pelayanan. Ini juga ekspresi ucapan syukur saya atas berkat yang sudah Tuhan berikan pada saya. Melayani dapat di mana saja, yang penting dapat berkontribusi. Gereja harus peduli terhadap pendidikan. Nggak harus langsung memberi ke sekolah, misalkan ada yayasan atau sekolah yang kurang mampu, berani nggak gereja memberi anggaran untuk sekolah tersebut dalam kapasitasnya sebagai bapak asuh. Caranya berbagai macam, bisa dalam bentuk beasiswa dan keringanan biaya sekolah.”

Menurutnya, masih banyak kekurangan dalam dunia pendidikan di Indonesia. “Saya bangga dengan BPK Penabur yang bisa menjadi lilin-lilin kecil di tengah kegelapan dunia pendidikan kita,” katanya. Ia menambahkan, saat ini banyak lembaga pendidikan Kristen di daerah merana. Mereka diibaratkan hidup segan, mati tak mau. Banyak sekolah Kristen terpaksa harus ditutup, karena ketidakadaan murid.  Menurutnya, itu disebabkan  beberapa faktor. Pertama, semakin jauhnya hubungan antara yayasan dengan gereja. Kedua, pada umumnya sekolah yang didirikan sudah agak tua, itu makin ditinggalkan karena para pendirinya sudah ganti, dan semangatnya sudah tidak seperti semula. 

Berita Terkait