Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si: Kita Perlu Ikut Melayani di Tengah Gereja dan Masyarakat

939 dibaca
Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si., Irjen Pol. Arman Depari (Deputi Bidang Pemberantasan BNN).

Figur-figur yang dipilih Majalah NARWASTU sebagai tokoh Kristiani itu, jelas bukan orang sembarang. Mereka orang-orang yang tak diragukan lagi kapasitasnya, dan berasal dari berbagai profesi. Di situ ada jenderal, politisi, aktivis, profesional, advokat senior dan pimpinan gereja yang sudah berkarya untuk gereja, masyarakat dan bangsa ini. Pemikiran-pemikiran mereka penting kita dengarkan, makanya perlu kita dukung forum seperti FORKOM NARWASTU. Dan pemikiran dari forum ini bisa disebarkan ke media massa, eksekutif, legislatif dan yudikatif.

                Itulah yang disampaikan Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si yang kini dipercaya sebagai Ketua FORKOM NARWASTU saat pertama kali forum ini akan dibentuk. Forum ini, kata Prof. Marten Napang, tidak hanya sekadar menghimpun tokoh-tokoh yang punya pengaruh, tapi forum ini berupaya memberikan solusi, pemikiran bahkan kajian kepada banyak orang. “Potensi atau pemikiran dari tokoh-tokoh itu luar biasa, dan harus dipublikasikan, karena mereka berjiwa melayani dan punya visi serta misi untuk masyarakat. Visi dari tokoh-tokoh pilihan NARWASTU itu saya lihat nasionalis dan kebangsaan,” ujar Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar itu.

                Menurut Prof. Marten Napang yang juga advokat senior, persoalan di tengah bangsa ini, baik bahaya narkoba, korupsi, terorisme maupun seputar ideologi, politik, sosial budaya, hukum, sistem kepemimpinan, pertahanan dan keamanan cukup menarik dan penting didiskusikan para tokoh pilihan NARWASTU, dan disampaikan pemikiran itu ke publik, karena pasti bermanfaat. ”Masalah teroris, korupsi dan narkoba paling bahaya saat ini di tengah bangsa kita. Seperti soal pengedar narkoba, umat Kristen banyak yang tak setuju hukuman mati diberlakukan kepada bandar narkoba. Lalu apa solusi untuk itu. Itu perlu didiskusikan,” cetusnya.

                Selain itu, FORKOM NARWASTU penting membicarakan soal bahaya pelecehan Pancasila yang pernah dilakukan selebriti agar jangan terulang, dan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Bagaimana umat Kristiani menyikapi itu. Demikian juga isu-isu seputar kepemimpinan dan demokrasi, bagaimana sikap umat kita. Bicara demokrasi, Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Dia pelayan, bukan tuan. Yesus datang ke dunia bukan hanya untuk orang Kristen, namun untuk orang-orang kecil yang sakit, lapar, tertindas, butuh penguatan dan butuh pengajaran.

                Kehidupan ketatanegaraan kita dalam perjalanannya sering mengalami masalah atau kerumitan. Sehingga untuk membangun bangsa ini agar lebih baik, perlu banyak pihak terlibat. “Potensi dari tokoh-tokoh Kristiani  harus kita gali, dan kita harus menyadari panggilan kita untuk ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di tengah gereja, masyarakat dan bangsa ini. Filosofinya, kalau kita kumpul atau bersatu, maka akan kuat dan bisa memberikan pokok-pokok pikiran. Ibarat lima jari, kalau kita berperan maka bisa berbuat sesuatu. Demikian juga pokok-pokok pikiran dari diskusi FORKOM NARWASTU, perlu disebarluaskan ke masyarakat. Dan kita perlu mengambil peran di tengah bangsa kita ini,” pungkas Prof. Marten Napang. KT

 

Berita Terkait