Roh Kasih Karunia Adalah Substansi dari Paskah

• Oleh: Pdt. Tjepy Jones Budidharma 211 dibaca
• Penulis adalah rohaniwan.

Beritanarwastu.com. Ibrani 10:29,”Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia,

yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang

menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?“ Kasih karunia bukan sekadar tema khotbah atau doktrin, tapi kasih karunia adalah Roh Allah sendiri, yang datang di dalamYesus Kristus (Yohanes 1:17). Kasih karunia Allah dan kebenaran datang dalam satu paket keselamatan. Dan dalam Kitab Mazmur 97:2 versi King James dikatakan bahwa kebenaran adalah “habitation” dari tahta Allah. Dapat dijelaskan seperti ini, bahwa roh kita yang telah mengalami kelahiran baru dan menjadi ciptaan yang baru, karena kasih karunia Allah harus ditaruh di “habitatnya” yang baru, di mana Allah berada, yaitu kebenaran Allah. Dalam kebenaran Allah ini iman yang bekerja, bukan perbuatan lagi, sebaliknya dari iman percaya ini akan lahir perbuatan iman yang besar sebagai manifestasi dari kuasa Firman Allah.

                  Kitab Ibrani pasal 10 ini dimulai dengan pernyataan bahwa di dalam Taurat terdapat bayangan dari keselamatan, tetapi bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Dan ini adalah ciri dari ibadah di Perjanjian Lama yang senantiasa mengingatkan akan adanya dosa (ayat 3). Di mana oleh kurban-kurban itu jemaat diingatkan bahwa mereka adalah manusia berdosa. Darah dari kurban yang mereka bawa hanya menutup sementara dosa mereka, sampai pada waktu yang ditetapkan Allah, maka darah Yesus tertumpah sebagai penghapus dosa akan menyempurnakan untuk selamanya mereka yang dikuduskanNya (ayat 14).

                  Satu analogi yang mendekati hal ini adalah, seperti pada waktu kita menggunakan “credit card” untuk berbelanja. Kartu kredit ini bukan alat pembayaran yang sah, tapi hanya menutup sementara sampai saatnya kita membayar lunas tagihan dari kartu kredit ini. Demikian juga halnya dengan darah Yesus yang melunasi dan menghapus dosa isi dunia (Yohanes 1:29).

                 Kemudian di ayat 16 dan 17 dijelaskan butir-butir dari perjanjian yang baru di mana Tuhan Yesus sebagai Imam Besar. Di dalam butir-butir tersebut manusia tidak lagi diberi bagian kecuali percaya untuk dapat masuk ke dalamnya dan inti dari butir-butir tersebut adalah pengampunan seluruh dosa manusia. Maka selanjutnya dalam 18 dikatakan, apabila untuk semuanya itu sudah ada pengampunan, maka tidak perlu lagi dipersembahkan korban, karena dosa, atau tidak ada lagi kurban yang diberlakukan untuk menghadap Allah. Satu-satunya dosa yang bisa membuat manusia melanggar perjanjian itu adalah kalau manusia menolak Sang Kurban dalam perjanjian itu atau menolak untuk percaya akan pengampunan dosa di dalam nama Yesus Kristus.

                Kita harus pahami bahwa kitab ini ditulis untuk orang Ibrani pada saat itu. Sekalipun kita bisa mengambil manfaat dari tulisan Firman Allah ini dan jangan kita menterjemahkan tulisan ini berdasarkan kehidupan kita masa kini. Kalau kita membaca ayat 26, di situ tertulis peringatan supaya jangan “berbuat dosa dengan sengaja.” Yang dimaksud dengan dosa yang sengaja dilakukan adalah meninggalkan iman akan kurban Yesus yang sempurna dan kembali kepada kurban lama yang sudah tidak berlaku lagi. Bagi orang Ibrani yang sudah percaya Tuhan Yesus di masa itu, maka kepercayaannya kepada Yesus menjadi tantangan yang berat, karena mereka dianggap menolak Taurat dan adat istiadat mereka.

                Bagi kita gereja Tuhan, kita harus bersyukur, karena kita memiliki pola ibadah yang baru, yaitu diingatkan akan pengampunan yang sudah Allah berikan di dalam nama Yesus. Karena ada kuasa dari berita pengampunan dosa, yaitu kita berani menghampiri tahta Allah setiap saat dan dasarnya adalah karena darah Yesus bukan perbuatan baik kita (Ibrani 4:16). Dan di situlah kita mendapatkan pertolongan dan kekuatan kita senantiasa, karena kita senantiasa tersembunyi di dalam Roh Kasih Karunia di dalam Allah setiap saat (Kolose 3:3). Amin.

Berita Terkait