Ronald Simanjuntak, S.H, M.H.: Mestinya Kita Merayakan Natal Tiap Hari

170 dibaca
Ronald Simanjuntak, S.H., M.H.

Beritanarwastu.com Merayakan Natal berarti memuliakan, memperingati, memestakan, yang artinya setiap perayaan Natal mesti mempermuliakan Tuhan. Kata “Natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin, Dies Natalis (Hari Lahir). Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristesmesse (1131), yang berarti Misa Kristus. Sementara Natal dari bahasa Portugis diartikan "kelahiran". Artinya kalau ada kelahiran ada sesuatu yang baru. Ini tak terlepas dari tujuan dan maksud kedatangan Yesus ke dalam dunia.

“Tuhan datang ke dunia ini paling tidak ada tiga tujuan utamanya. Pertama, mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula sebagaimana manusia sebelum jatuh ke dalam dosa, dan itulah yang disebut dengan keselamatan. Kedua, memberikan contoh hidup (role of model) kepada manusia, bagaimana manusia seharusnya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketiga, membangun dan menyambung komunikasi manusia dengan Allah yang sudah terputus akibat manusia jatuh ke dalam dosa,” ujar Ronald Simanjuntak, S.H., M.H. Pria kelahiran Desa Adian Padang, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 26 Oktober 1960 ini.

Ronald berkisah, Alkitab berkata, Yesus adalah Adam yang akhir. Jadi Yesus adalah untuk menjadi role of  model bagi manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kedatangan Yesus, maka komunikasi manusia dengan Allah tersambung kembali karena sebelumnya sudah terputus akibat manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Hal ini berarti bahwa harus ada kebaharuan. Artinya, Yesus datang untuk mengubah peradaban manusia. Kalau kita bicara perabadan itu terkait soal karakter dan mind set. Oleh karenanya, Natal tak boleh dilihat dari segi pesta poranya, tetapi harus kembali pada hakekat Pencipta. 

Menurutnya, ada benarnya ungkapan yang mengatakan, bahwa kita harus merayakan Natal tiap hari. Kalau kita bicara pertobatan itu berawal dari arti metanoia, perubahan mindset. Kalau Yesus menjadi contoh hidup bagi kita, sedangkan kita tak lagi hidup dalam zaman Yesus, bagaimana kita melihat cara hidupNya? Untuk itulah kita harus belajar Alkitab. Kita bisa mempelajari cara hidup Tuhan dari Alkitab dan Alkitab akan mengajar dan mendidik kita bagaimana menjalani hidup. Di dalam 2 Timotius 3:16, disebutkan bahwa, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 

“Mengajar manusia untuk mengenal Allahnya dengan benar dan lebih dekat. Mengajar manusia bagaimana menjalani hidup. Menegor dan menyatakan kesalahan pada saat manusia melakukan kesalahan serta mengarahkan manusia untuk kembali pada jalan kebenaran. Mendidik dan memperbaiki cara hidup yang salah. Tegoran itu bisa bermacam-macam, bisa lewat sakit penyakit, kesulitan hidup, bisa dengan berbagai  macam cara, bisa juga dengan firman atau dengan membaca Alkitab. Macam-macam cara Tuhan menegor. Petrus ditegor Tuhan lewat ayam. Bileam ditegor Tuhan dengan keledai. Di dalam Yohanes 1 ayat 1 dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman tidak mengajarkan manusia hidup dalam kemewahan, pesta pora dan kesombongan, akan tetapi kesederhanaan dan kerendahan hati. Menjadi pertanyaan bagi kita bagaimana kita merayakan kesederhanaan, kerendahan hati itu? Kedatangan Tuhan memberi contoh kesederhanaan hidup dan kerendahan hati. Tuhan tak lahir di istana, Tuhan tak lahir dari kemewahan dan pesta pora. Selama hidupnya di dunia pun Tuhan tak pernah menunjukkan hidup yang bermewah-mewah. 

Dia rela hidup setara dengan manusia yang hina dina karena dosa, agar manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semua. Orientasi hidupnya bukan dunia ini, tetapi orentasinya adalah langit baru dan bumi baru yang seharusnya juga menjadi orientasi hidup kita selaku orang percaya. Kita harus bisa mewarnai dunia ini, tidak sebaliknya, kita yang diwarnai dunia ini dengan merayakan Natal sebagaimana dunia merayakan dengan segala kemewahan dan pesta pora yang jauh dari makna Natal itu sendiri.

Apa yang kelihatan di dunia ini hanyalah gambaran, hanya bayang-bayang dari kekekalan itu. Oleh karena kasihNya kepada manusia Dia rela memberikan diriNya kepada manusia. Tetapi, lagi-lagi inilah dunia, justru perayaan Natal dirayakan dan dibuat para bisnisman untuk mencari keuntungan bisnis. Natal dirayakan dengan euforia, pesta pora dan kemewahan yang bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. 

Esensi lain dari Natal adalah bukti kasih Allah akan dunia itu. Allah itu kasih maka rela memberikan diriNya untuk manusia. Itu artinya, kalau kita sudah mendapat anugerah dari Tuhan kita wajib hidup seperti Tuhan ajarkan melalui FirmanNya. Bahwa Dia datang untuk memberikan contoh hidup. Di sinilah pentingnya percaya. Percaya di sini bukan sekadar soal pengertian pikiran dan atau di mulut, akan tetapi harus dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatannya. Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan itu akan kelihatan dari jejak hidupnya dan bangaimana dia menjalani hidup. 

Misalnya, orang berkata bahwa dia percaya dan pengikut ideologi Bung Karno, maka akan kelihatan dari cara dia hidup, apakah sesuai dengan ideologi Bung Karno? Hakikat dari Firman Tuhan itu ada 3 yaitu, Iman, Pengharapan dan Kasih dan yang paling besar di antaranya ialah Kasih (1 Korintus 13:13). Kasih Allah itu sempurna dan tidak berkesudahan, tidak ada batasnya. Kasih kalau dibedakan ada empat; Agape, Eros, Storge dan Philia. Tentu yang tertinggi adalah kasih Agape, yaitu kasih Allah sendiri. Kasih menutupi segala kekurangan. Kasih yang tertinggi diberikan oleh Tuhan adalah Dia turun dari tahtaNya, sorga yang mulia rela menjadi sama seperti manusia, menderita aniaya, dihina, bahkan mati disalibkan demi menebus manusia dari dosa dan kebinasaan kekal. Jikalau orang berani mati karena orang lain berbuat baik kepada dia, itu bisa terjadi, tetapi jikalau ada orang mati, mau menjadi korban bagi orang yang mengkhianati dirinya adalah luar-biasa. Berbuat baik bagi orang yang berbuat baik kepada dirinya, itu hal biasa, tetapi berbuat baik dan memberkati orang yang mengkhianati dan musuh kita, itu baru luar biasa dan itulah yang diajarkan Yesus kepada orang percaya. Kalau ditampar pipi kiri, maka berikan pipi kanan.

Di situlah kelebihan ajaran Kristus. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang mengatur hukum-hukum, akan tetapi merupakan jalan hidup (way of life). Hukum Tuhan itu bukan hukum yang tertulis bukan syariat yang tertulis, hukum Tuhan itu adalah jalan hidup, the Lord is my law. Kalau menurut hukum, berzinah itu adalah melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan pasangan hidupnya (suami-isteri), akan tetapi dalam kekristenan melihat lawan jenis dan menginginkannya, itu sudah berzinah. Demikian juga kalau membunuh, itu menurut hukum, adalah menghilangkan nyawa orang lain, tetapi menurut kekristenan bahwa membenci sesama manusia itu sudah sama dengan membunuh. Jadi ajaran Kristen itu jauh melampaui apa yang dapat dirumuskan dengan bahasa hukum.

Tradisi di kampung halaman merayakan Natal adalah selalu identik dengan baju baru, pesta-pesta dengan makan-makan yang istimewa dari yang biasanya. Tentu, itu budaya Barat yang diadopsi karena mereka setiap Natal itu yang mereka tonjolkan adalah perayaan pesta. Kekristenan itu harus makin dewasa seiring dengan perjalanan waktu. Dahulu kekristenan kita masih anak-anak seperti dulu waktu masih di kampung masih tingkat anak-anak. Namun kekristenan itu mesti makin dewasa, harus semakin bisa memahami dan merasakan apa yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.

  Ronald Simanjuntak, sejak menjadi pengacara ia aktif mengikuti berbagai pendidikan dan seminar baik di dalam maupun di luar negeri serta aktif juga di organisasi advokat. Pernah menjadi pengurus DPC IKADIN Jakarta Barat, DEPINAS SOKSI bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan DPP IKADIN bagian Hubungan Luar Negeri dan sekarang masih sebagai Ketua Dewan Penasihat DPC PERADI Jakarta Timur dan menjadi pengajar di Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) untuk calon-calon advokat muda.

Selain itu, dia aktif di organisasi bisnis. Pernah menjadi Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perdagangan Bursa Komoditi Indonesia dan pernah Managing Director PT. Mitra Yasa Investama. Sekarang masih aktif sebagai advokat sembari Managing Director PT. Karimun Aromatics yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik CPO sejak tahun 2007 serta sebagai Direktur pada PT. Intan Angkasa Air Service yang bergerak di bidang penerbangan dan penyedia alat angkut udara. “Saya merasakan dalam bisnis bahwa latar belakang saya di bidang hukum itu sangat mendukung,” ujarnya.

Lalu, kembali ditanya tanggapannya soal Natal nasional? Menurutnya, Natal nasional itu baik sebagai eksistensi kita sebagai orang Kristen. Dari segi politik itu baik. “Kita menunjukkan bahwa kita ada di republik ini. Kita sangat bersyukur, benar-benar bersyukur kepada Tuhan bahwa di pemerintahan sekarang ini orang Kristen diapresiasi dengan memberi ruang lebih luas. Untuk itu kita harus bisa tunjukkan gaya hidup sebagaimana gaya hidup yang diajarkan Tuhan Yesus, bukan justru sebaliknya mempertontonkan gaya hidup hedonis, materialistis dan eksklusif. Kita ada dan hadir di negara ini bukan secara kebetulan, akan tetapi ada maksud dan tujuan Tuhan agar kita bisa menjadi garam dan terang yang dapat dicontoh oleh orang-orang di sekitar kita, baik dalam hidup rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Itulah yang disebut hidup menjadi berkat dan menjadi saksi. Dan kita lakukan semua itu untuk Tuhan. Itulah yang menjadi bukti iman, kita menghidupkan Kristus, dalam hidup kita. Kelakuan dan perbuatan kita itulah sebenarnya agama kita. "Misalnya saya sebagai advokat harus bisa berkelakuan sebagai advokat sesuai ajaran Kristus, dan profesi advokat itulah yang menjadi market place bagi saya," katanya.

  “Kita bisa saja merayakan Natal dengan berbagai cara, tetapi esensinya kita tak boleh melupakan bahwa kita merayakan karena sudah menerimanya terlebih dahulu. Merayakan Natal bukan menonjolkan pestanya, hura-huranya tetapi intinya karena kita sudah merasakan anugerah, bukti kita menerimanya, kita implikasi dengan mengasihi sesama. EmpatiNya dan kehadiranNya. Misalnya, mengunjungi panti asuhan, mengunjungi penjara, bakti sosial dll. Hal itu baik-baik saja dilakukan tetapi dengan kesadaran dan motivasi bahwa itu semua kita lakukan untuk Tuhan, karena Tuhan sudah terlebih dahulu melakukan semua itu untuk kita,”  ujarnya.

Natal pertama dirayakan sekitar tahun 336 ketika Konstantin Novel yang menjadi kaisar Kristen pertama dan menjadikan Kristen agama negara yang dipimpinnya. Tanggal 25 Desember sesungguhnya adalah perayaan Dewa Matahari, oleh Konstantin Novel menjadikannya menjadi perayaan negara, artinya, tak berfokus pada tanggal dan bulan. Karenanya, pesan Natal, hendaklah kita orang Kristen lebih mengutamakan esensi jangan  menyimpang dari maksud dan tujuan Natal itu sendiri. HM

Berita Terkait