Kenapa Doa Bagi Bangsa?

*Oleh: Dr. Antonius Natan, Th.M 363 dibaca
Para tokoh gereja berdoa bagi kedamaian dan kesatuan untuk bangsa Indonesia tercinta.

Beritanarwastu.com. Memperhatikan acara Doa Kesatuan Damailah Indonesiaku, para pemimpin gereja dan umat sepakat bahwa sangat penting untuk mendoakan bangsa Indonesia. Meyakini Tuhan menjaga tanah air Indonesia, Tuhan sangat peduli atas rakyat Indonesia, dan Tuhan memiliki rencana besar terhadap bangsa Indonesia. Sebab sebagai manusia ciptaan Tuhan kita tidak mampu merawat Pancasila serta menghidupkan Bhinneka Tunggal Ika, yang pandu oleh UUD 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya Tuhan yang mampu, sehingga sebagai umatNya kita bersatu hati dan berdoa mendirikan mezbah bagi Tuhan, menyenangkan hati Tuhan.

         Tahun 2005 pertama kali Fund for Peace (Dana untuk Perdamaian) menerbitkan daftar di antarnya 43 negara “terancam” gagal salah satunya Indonesia. Negara gagal adalah negara yang dianggap gagal memenuhi persyaratan dan tanggung jawab dasar suatu pemerintahan berdaulat. Sesungguhnya tidak ada kesepakatan umum tentang definisi negara gagal.

         Disebutkan negara gagal jika Pemerintah Pusat sangat lemah atau tidak efektif, sehingga tidak berdaulat di daerah provinsi atau kabupaten, buruknya layanan publik, korupsi merajalela, tindak kejahatan yang meluas, terjadinya pengungsian dan perpindahan penduduk tak terkendali, diikuti dengan memburuknya kondisi perekonomian.

         Indonesia beberapa kali mengalami keterpurukan, di antaranya tahun 1998, dan pasang surutnya gelombang ekonomi serta ancaman terorisme dan radikalisme, peredaran gelap narkoba, korupsi serta bencana di berbagai daerah yang terus menerus melanda. Seakan Indonesia tidak memiliki masa depan. Benarkah Indonesia terancam sebagai negara gagal? Ataukah ini hanya hoax.

 

Era Doa Kesatuan

         Dalam kurun waktu tahun 1999 diawali Rally Doa Nasional, terus dikumandangkan Doa Bagi Bangsa, berdoa disertai kasih dan kuasaNya. Doa Kesatuan yang berawal pada tahun 2003 lalu berhasil mendobrak tembok-tembok dogma dan teologi, sehingga terjadi rekonsiliasi dan kesatuan tubuh Kristus yang awali oleh pemimpin aras gereja, Pemimpin sinode bersama-sama merendahkan hati berdoa kepada Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi. Era Doa Kesatuan dilanjutkan dengan National Prayer Conference, yang dilakukan serentak di hampir 100 kota di Indonesia dan ratusan delegasi mancanegara ikut serta dalam Doa Bagi Bangsa pada 5 Mei 2005 di GBK Senayan, Jakarta. Titik awal sekaligus merupakan momentum Doa Kesatuan dan perubahan bagi bangsa Indonesia. Berbagai sinode dari berbagai gereja dan daerah bersama sama bersehati berdoa dalam kesatuan.

 

Era Doa Transformasi

        Doa Kesatuan bergulir, Indonesia kembali menjadi pusat perhatian dunia dengan diselenggarakannya World Prayer Assembly tahun 2012. Era Doa Transformasi dimulai, hampir 400 kota/kabupaten dan ribuan delegasi dari mancanegara mengikuti konferensi yang diselenggarakan di SICC Sentul, Bogor, serta Momentum Doa Global diadakan pada 17 Mei 2012 di GBK Senayan membawa perubahan demi perubahan terjadi di Indonesia. Kita mulai memasuki gelombang rohani baru yang muncul dari Timur, dan terus bergulir ke Barat. Kesatuan gereja terjadi di mana-mana, gereja berdoa dan berdirinya berbagai menara doa, yang dihadiri oleh gereja dengan berbagai latar belakang dogma dan teologi, doa mempersatukan umat dan pemimpin gereja.

 

Era Doa Generasi

         Pada 7 Maret 2019 kita memasuki sejarah baru dalam pergerakan doa serta kesatuan tubuh Kristus, saat ini kita memasuki Era Doa Generasi, kegerakan doa di 555 kabupaten/kota dan hampir 100 kota mancanegara bersehati berdoa bagi damainya Indonesia, meminta berkat dicurahkan, sekaligus kegerakan doa ini memicu gerakan pemuda yang lebih kuat. Seakan Tuhan sedang membuka jalan bagi generasi muda mengambil alih kepemimpinan. Kali ini kita tidak sekadar berdoa, melainkan mendirikan mezbah doa. Dengan demikian kita membawa korban syukur dan pengorbanan diri, sehingga api membakar hati setiap umat Tuhan yang sungguh-sungguh berdoa mencari wajahNya. Kobaran api Injil dalam gereja dan umat akan menjalar ke pelbagai pelosok, melahirkan jiwa-jiwa baru, gereja seakan merasakan sakit persalinan. Munculnya pemimpin-pemimpin baru dari kaum milenial menandai bonus demografi yang sedang terjadi saat ini sedang berada dalam gereja Tuhan.

 

Doa Bagi Bangsa Diperlukan

        Perkembangan bangsa Indonesia tergantung kepada doa dan gereja-gereja bersehati berdoa mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan yang salah. Era Doa Generasi akan membawa mezbah Tuhan tidak saja selalu berada di altar, tetapi akan berada di pasar-pasar. Gelombang doa yang kuat dengan semangat baru menembus batas, mengguncang sorga. Tuhan yang peduli bangsa Indonesia akan melawat bangsa ini. Perubahan menuju kebaikan akan diwarisi oleh anak-anak generasi milenial yang cinta Tuhan. Rahasia sorga akan dibukakan kepada gereja yang paham tentang mendirikan mezbah doa dan merasakan sakit persalinan.

          Tentunya Indonesia akan menjadi negara modern yang maju, makmur dan sejahtera tanpa hoax di dalamnya.  2 Tawarikh 7:14 (TB), Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka

 

 

·         Penulis adalah Sekretaris Umum PGLII DKI Jakarta dan Wakil Ketua I Bidang Akademik STT Rahmat Emmanuel.

Berita Terkait