Heben Heser Ginting, Amd., S.E.
Mantan Calon Bupati Karo yang Nasionalis dan Religius

406 dibaca
Heben Heser Ginting, Amd., S.E. Nasionalis dan religius.

BERITANARWASTU.COM. Tokoh muda yang satu ini adalah anak bangsa yang ingin melihat negeri ini damai, aman, sejahtera dan rakyat memiliki pemimpin yang mau berkorban. Dia pun tokoh muda nasionalis dan religius yang pernah tampil sebagai Calon Bupati Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, di Pilkada 2015 lalu. Meskipun di pilkada yang diikuti 7 pasangan calon itu ia belum menang, namun ia sudah berupaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar tahu hak dan kewajibannya.

                Di Pilkada 2015 di Tanah Karo, Heben Hezer Ginting, Amd., S.E. tampil sebagai calon independen. Melalui perjuangan yang sangat berat, Heben Heser yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah membuktikan ia figur berkarakter dan berintegritas. Ia punya mimpi melihat kampung halamannya sejahtera, aman, damai dan makmur. Pengusaha tambang dan properti yang beribadah di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini menuturkan, ia terpanggil untuk menjadi calon bupati di daerahnya, karena ia melihat pemerintah setempat cukup lemah dalam menangani warga korban bencana alam Gunung Sinabung.

                “Saya melihat pemerintah daerah di sana cukup lemah dalam menangani masalah warga korban Sinabung. Banyak bantuan mengalir, namun masyarakat masih mengalami penderitaan. Di sinilah pemerintah setempat kurang mampu memanage SDM dan dana yang ada. Bencana Sinabung sesungguhnya bencana daerah, namun disebut-sebut menjadi bencana nasional. Karena pemerintah setempat tak mampu menangani masalahnya. Saya pun melihat APBD tidak bisa dengan maksimal dikelola untuk mensejahterakan masyarakat. Dan 30 tahun pemerintah di sana kurang kapabel membangun Tanah Karo,” ujar pimpinan Artane Buana Energi yang lahir di Desa Munthe, Kabupaten Tanah Karo, Sumut, 8 Maret 1970 ini.

                Menurut anggota MPO Pemuda Pancasila dan anggota Dewan Penasihat FKPPI di Kabupaten Tanah Karo ini, Tanah Karo yang luar biasa subur sebagai berkat Tuhan sesungguhnya bisa maju dibangun, asal pemimpin daerahnya memahami “Revolusi Mental” atau istilahnya revitalisaasi. “Revitalisasi artinya: mengembalikan hal-hal vital pada hal-hal yang baik, baik soal budaya, pendidikan maupun ekonomi. Dulu banyak anak-anak SMA asal Tanah Karo masuk ke USU (Universitas Sumatera Utara), namun belakangan ini bisa dihitung dengan jari jumlah yang masuk USU,” tegas  suami tercinta Nirwana Sebayang, S.Si ini.

                Ia mengatakan, 20 tahun lalu pendapatan perkapita Kabupaten Tanah Karo itu nomor satu di Sumatera Utara, namun sekarang tidak lagi. “Tanah Karo punya tanah subur, hasil buah-buahan dan sayur-sayuran yang melimpah. Juga punya pemandangan alam yang indah, seperti di Merek yang di dekat Danau Toba. Berastagi pun dulu diakui dunia internasional sebagai kota sejuk, serta penghasil buah dan sayur,” ujar mantan Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Politehnik ITB ini.

                Kalau Tanah Karo dimanage dengan serius, imbuhnya, maka bisa kembali menjadi kota tujuan wisata dan rakyatnya sejahtera. Namun makin hari Tanah Karo semakin tertinggal, apalagi dengan bencana Sinabung. “Saya berpendapat, Tanah karo perlu memiliki pemimpin yang mau berkorban,” paparnya. Lantaran dulu dikenal bersikap tegas, apalagi Heben Heser saat berkampanye mengkritisi penyakit sosial, seperti perjudian, dan peredaran narkoba di tengah masyarakat Karo, ia pun disebut-sebut Ahok-nya Tanah Karo. “Saya tahu ada yang tidak suka kepada saya karena saya tegas bicara perjudian agar diberantas aparat, namun kalau bangsa ini ingin hidup sejahtera, maka perjudian harus diberantas. Peredaran narkoba pun harus dilawan, karena itu bisa menimbulkan penyakit HIV/AIDS dan pergaulan bebas,” pungkas mantan Ketua Badan Koordinasi Mahasiswa Karo se-Bandung Raya ini.

                Heben Heser berpendapat, kalau masyarakat ingin memilih pemimpin yang baik, maka jangan pragmatisme di dalam memilih pemimpin, tapi mesti rasional. “Saat saya tampil di Pilkada 2015 Tanah Karo saya tidak mau memberikan uang atau apapun yang sifatnya sesaat. Dan saya memberikan komitmen saya, bahwa jika kelak terpilih maka saya akan memakai APBD yang jumlahnya besar untuk kesejahteraan masyarakat. Ketika saya tampil jadi calon bupati rakyat yang mendukung saya itu memang hanya 6.000 orang, dan pemenang mendapat suara 40.000 orang. Namun saya bangga, karena pemilih saya bukan orang yang diberi sesuatu supaya memilih saya,” tegas Ketua Yayasan Rajutan Kasih Abadi yang aktif membantu korban bencana alam Gunung Sinabung dan aktif dalam sosial kemasyarakatan itu.

                Bekas Ketua Himpunan Mahasiswa Sipil Politehnik ITB ini menambahkan, dari pengalaman di pilkada itu ia mendapat pelajaran berharga, terutama dalam menghadapi kerasnya pertarungan politik. “Sebagai pengikut Kristus saya mengimani bahwa lewat pilkada itu saya dilatih dan banyak belajar untuk mempersiapkan diri agar bermanfaat bagi banyak orang. Saya bersyukur, karena ada banyak relawan membantu saya. Saya pun merasakan ada tempaan Tuhan di situ agar saya lebih sabar dan rendah hati. Dari pilkada itu pun saya dapat petik pelajaran bahwa kalau sebuah daerah ingin maju, maka pemimpinnya jangan sampai dibebani utang. Jangan sampai ada kekuatan tertentu yang bisa menyetirnya atau itu menjadi bebannya ketika dia sudah menjabat. Ada calon kepala daerah saat dia menang hanya habis dana Rp 700 juta, dan saat dia berhasil menang tak ada beban kepada orang-orang tertentu,” terangnya.

                Heben Heser menuturkan, aktif di dunia politik kita mesti siap secara mental dan finansial. “Kalau saya lebih cenderung memilih tampil di calon kepala daerah daripada caleg,” papar Ketua Warga Munthe asal kampung Munthe (Tanah Karo) di DKI Jakarta dan sekitarnya ini. Menurutnya, dalam hidup ini kita sebagai orang Kristen tak bisa hanya memikirkan keluarga sendiri, tapi kita harus berupaya menjadi berkat bagi sesama.

                Ayah tiga anak, Samuel Henjapase Ginting, Teona Larisa Ginting dan Albert Keane Ginting ini menerangkan, dalam hidup ini ia berobsesi agar hidupnya bermakna bagi sesama. “Dalam hidup ini kita tak bisa hanya memikirkan diri sendiri,” pungkas Ketua Panitia Natal 2014 Jemaat GBKP Jakarta Pusat yang sudah membangun sebuah balai pertemuan di kampung halamannya, yang bisa menampung 2.000 orang itu.

Berita Terkait