Mengajak Kaum Muda agar Cerdas dan Bijaksana Memanfaatkan Media Sosial

453 dibaca
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diabadikan bersama peserta seminar.

           BERITANARWASTU.COM. Pada Minggu pagi, 22 Oktober 2017 lalu, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos berbagi ilmu dan pengalaman bersama kaum muda Gereja Kerasulan Baru Indonesia (GKBI) Kota Bekasi, Jawa Barat. Pengasuh Majalah NARWASTU ini diundang sebagai nara sumber (pembicara) di seminar dengan tajuk "Anak Muda Mesti Cerdas dan Bijaksana Memanfaatkan Media Massa dan Media Sosial." Lebih dari 150 orang kaum muda dan orangtua hadir dalam acara seminar ini yang dimoderatori Agustinus Sukarno ini.               Jonro I. Munthe yang merupakan lulusan Fakultas Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (IISIP), Jakarta, memaparkan, sadar atau tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia, termasuk warga gereja saat ini sudah banyak yang menjadikan media sosial atau gadget menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ada pengaruh positif dan negatif dari media sosial (medsos) ini, karena setiap orang jadi gampang mengirimklan pesan, baik gambar-gambar, kata-kata, suara atau video lewat medsos, seperti lewat Face Book. Orang jadi sering mencurahkan isi hati (curhat) lewat medsos, berkeluh kesah, bahkan berdebat dengan tajam dengan sesama lewat medsos.

Juga orang jadi banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas medsos dari pada berkomunikasi tatap muka dengan sesama. “Juga saat orang bangun pagi, lebih banyak sibuk dengan aktivitas medsos. Tidak salah kita memanfaatkan medsos, namun komunikasi tatap muka atau lisan tetap penting dijaga. Akibat medsos ini pula, orang yang awalnya jauh dari kita, semakin dekat kepada kita. Sebaliknya, orang yang dekat kepada kita justru semakin jauh dari kita, karena lebih sibuk kita memanfaatkan medsos daripada berkomunikasi tatap muka dengan yang bersangkutan,” ujar pria peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator Pilihan Majelis Pers Indonesia (MPI)” pada 2009 lalu itu.

 

Jonro I. Munthe, S.Sos mendapat cendera mata berupa lukisan foto dari pimpinan GKBI> 

 

              Medsos, baik Face Book, WA, Istagram, Twitter, You Tube dan lain sebagainya, harus bisa kita manfaatkan untuk kedamaian, kesejahteraan dan kerukunan dengan sesama. “Jangan medsos menjadi media untuk memancing permusuhan, apalagi yang bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Apalagi Undang-Undang IT sekarang tidak main-main memberikan hukuman berat jika ada pihak-pihak yang melanggar hukum ketika memanfaatkan medsos. Jadi mari pakai medsos untuk hal-hal yang baik atau positif dan prososial. Banyak hal yang bisa dimasukkan ke medsos, baik kata-kata motivasi, pemikiran atau gagasan yang bermanfaat, foto-foto tempat wisata yang bagus, seputar kuliner, tips-tips menghadapi bahaya narkoba dan menyampaikan doa atau pesan perdamaian dan kerukunan kepada sesama,” papar Jonro I. Munthe yang sering diundang sebagai pembicara dan moderator di diskusi (seminar) sosial politik, kemasyarakatan dan gereja.

                Menurut Jonro Munthe, di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, sudah kita saksikan begitu luar biasa pengaruh medsos dalam menyampaikan pesan-pesan politik, mulai dari caci maki, hinaan bahkan pujian bagi calon tertentu. Dan banyak perdebatan kita baca di medsos kala itu. Termasuk di pilkada-pilkada daerah lain, medsos pun  dimanfaatkan untuk mempengaruhi persepsi publik. Sehingga dalam memanfaatkan medsos kita mesti cerdas dan bijaksana, serta jangan terbawa arus. “Umat Kristiani harus bisa menginspirasi, memotivasi dan membangun persaudaraan dengan sesama lewat medsos. Bukan malah menabur konflik. Karena ajaran Yesus Kristus adalah menyuarakan kabar baik, dan bukan menabur ketakutan,” katanya.

                Jonro pun memberikan tips-tips dalam memanfaatkan medsos. Misalnya, agar hati-hati dalam menyiarkan pesan-pesan politik yang sering mengarah pada penghinaan SARA tertentu. Juga agar jangan sembarang mem-posting video-video sadisme, pornografi dan horor, yang cenderung membuat publik khawatir, cemas dan prihatin. “Sadar atau tidak sadar, dari isi medsos kita orang lain bisa menilai siapa dan bagaimana sesungguhnya karakter atau kepribadian kita. Sehingga isilah akun Face Book atau medsos kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, terutama ketika mempublikasikan kata-kata, gambar, video atau logo-logo,” pungkas Jonro Munthe.

                Dalam seminar yang berlangsung akrab dan sering diselingi dengan canda tawa itu, apalagi pesertanya adalah kaum muda, ada banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Jonro Munthe. Misalnya, bagaimana menyikapi pengikut (follower) yang suka mengirim kata-kata yang mengarah pada kebencian dan kata-kata berlebihan. Dan bagaimana menyiapkan kata-kata yang menyentuh lewat medsos bila kita akan beraktivitas pada pagi hari. Semua dijawab dengan tangkas oleh Jonro Munthe.  

          “Kita pun harus cerdas dalam menyikapi pemberitaan-pemberitaan media massa, dan mesti cerdas dalam menyikapi pesan-pesan atau berita-berita yang disiarkan. Sebab pengaruh media massa itu luar biasa, dan bisa mengubah perilaku atau mengubah persepsi atau opini publik. Namun media massa masih lebih terkontrol, karena ada pengelolanya, serta ada Undang-Undang Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang mengawasi. Beda dengan medsos, yang setiap orang begitu mudah mem-posting pesan-pesan di dalamnya. Namun tetap hati-hati, Undang-Undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 pun mengawasi kita yang giat di medsos,” cetus Jonro.

Dan Agustinus Sukarno sebagai moderator mengingatkan para peserta seminar bahwa pimpinan sebuah perusahaan pun jeli menilai karakter seseorang hanya dengan melihat akun Face Book.

                “Jadi hati-hatilah jika mengisi pesan-pesan atau postingan di Face Book atau medsos. Meskipun di bangku kuliah kita punya IP tinggi, kalau karakter kita dinilai kurang bagus lewat akun Face Book, sangat mungkin kita akan menghadapi masalah di tempat bekerja kita,” ujar Agustinus. Di akhir seminar, tokoh GKBI Ignatius Susiyanto menyampaikan, dari paparan pembicara kita semakin dicerahkan agar bisa menjadi pemenang untuk memanfaatkan medsos. “Yang paling utama, pakailah akun medsos atau Face Book saudara untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk melakukan hal-hal yang negatif,” tegasnya. Seusai seminar, dilanjutkan dengan foto bersama, makan siang, lalu kebaktian Minggu. KT

Berita Terkait