Panitia Kongres Ke-36 GMKI Berjuang dan Sukses Jalankan Tugas

76 dibaca
Ketua Pelaksana Harian Kongres ke-36 GMKI, Sterra Pietersz, S.H., M.H. (kanan).

Beritanarwastu.com Sebagai organisasi kepemudaan  (mahasiswa) berbasis Kristen dan berjiwa nasionalis, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) tetap menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah organisasi mahasiswa yang terus berkontribusi positif di negeri ini. Buktinya, pada medio September 2018 lalu, GMKI sukses menggelar Kongres ke-36 yang dibuka secara langsung oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo di Kota Bogor, Jawa Barat. Kongres itu dapat terselenggara dengan baik dan sukses. Semua itu berkat kekompakan panitia dan seluruh pihak terkait yang bersinergi satu dengan yang lain. “Hari ini panitia bersama pengurus periode 2016-2018 telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dalam menyelenggarakan Kongres ke-36 GMKI di Jakarta. Sehingga hari ini saatnya kami menyerahkan laporan pertanggungjawaban, laporan keuangan dan pembubaran panitia,” terang mantan anggota DPR-RI PDIP, Sterra Pietersz, S.H., M.H. sebagai Ketua Pelaksana Harian Panitia Kongres Ke-36 GMKI saat ditemui Majalah NARWASTU dalam acara laporan LPJ di Sekretariat PM GMKI, Jalan Salemba Raya 10, Jakarta Pusat, pada Jumat 5 Juli 2019 lalu. Sedangkan Ketua Umum Panitia, Pdt. Dr. A.A. Yewangoe saat itu tak bisa hadir karena sedang bertugas di luar negeri. Sehingga ia diwakili ketua pelaksana harian, Sterra Pietersz.

         Dari Kongres ke-36 GMKI itu terpilih Corneles Galanjinjinay (Ketua Umum) dan David Sitorus (Sekretaris Umum) untuk memimpin Pengurus Pusat (PP) GMKI periode 2018-2020. Bagi Sterra Pietersz yang termasuk dalam "21 Tokoh Kristiani 2015 Pilihan Majalah NARWAATU" itu, kendati kongres 2018 lalu sempat diwarnai oleh hal kurang menggenakkan dan sarat dengan tantangan, namun panitia yang didominasi perempuan itu justru tangguh-tangguh sehingga mampu mengangkat kongres sampai ke tingkat puncak, yakni terpilihnya Ketum dan Sekum PP GMKI yang baru. “Beruntung GMKI masih memiliki kader-kader yang punya prinsip dan komitmen, sehingga bisa menyingkirkan masalah dan melanjutkan apa yang ada,” tukas mantan Sekjen DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) dan kini Sekretaris Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU (FORKOM NARWASTU) itu. Ia menambahkan, sepanjang sejarah GMKI baru sekali ini (2018) dibuka oleh Presiden RI dan itu merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa, karena Jokowi menyediakan waktu untuk membuka kongres itu. Organisasi yang tidak perlu lagi diragukan kehandalannya dalam mencetak para tokoh handal itu, sebut saja seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Yasonna Laoly, Pdt. WTP Simarmata, William Sabandar dan lainnya itu, sampai kini masih menunjukkan eksistensinya termasuk dalam kancah perpolitikan di negeri ini. Hal itu semata-mata karena organisasi ini tempat persiapan kader dengan kompetensi dalam iman, ilmu, dan kepemimpinan serta kepekaan sosial yang dapat diwujudkan dalam tiga bidang pelayanannya, yakni perguruan tinggi, gereja dan masyarakat. 

      Oleh sebab itu, GMKI selalu mencoba menjawab kebutuhan zaman serta selalu menitikberatkan untuk bisa berkontribusi bagi gereja, perguruan tinggi dan masyarakat. Walaupun tetap tidak menutup mata jika di era milenial ini kecenderungan untuk berorganisasi kurang mendapat tempat di hati para kaum milenial atau anak muda zaman now. 

         “Jadi ada dua hal yang menjadi perhatian GMKI, yakni menghadapi tingginya radikalisme di kalangan generasi muda yang tidak hanya ada di perkotaan tapi juga di kampus. Hal ini tidak hanya menjadi tantangan GMKI, melainkan juga organisasi agama yang lain. Tantangan lain, yaitu perkembangan teknologi di era milenial yang cenderung membuat mereka tidak lagi berminat dengan organisasi-organisasi seperti GMKI, HMI dan lain sebagainya, karena mereka lebih senang dengan hal yang tidak terikat. Sementara di sisi lain, GMKI inilah yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, keberagaman, atau masyarakat yang masih mengalami ketidakadilan, dan inilah yang menjadi tantangan GMKI,” terang Sahat M.P. Sinurat sebagai Ketua Umum PP GMKI periode 2016-2018.

       Hal senada dikatakan oleh Corneles G. sebagai Ketua Umum GMKI (2018-2020) yang tidak menampik ada beban tanggung jawab yang harus dilakukan sesuai dengan amanah yang diberikan untuknya bersama dengan anggota pengurus lain. “Tentunya pelayanan di GMKI berat, mengambil tanggung jawab yang ada sebagaimana visi GMKI terus menggenjot dan memperkuat pelatihan yang ada dengan kaderisasi-kaderisasi di semua cabang. Dan itu menjadi target  utama. GMKI juga mempersiapkan pemimpin untuk ambil bagian dalam memberikan kontribusinya kepada bangsa dan negara,” tegas Corneles.

        Dalam acara laporan pertanggung jawaban, pembubaran panitia serta laporan keuangan itu dapat dikatakan sukses di tangan dingin Sterra Pietersz yang juga mantan aktivis GMKI dan tim panitia lainnya. Di samping berlangsung cepat pelaporan, yakni hanya memakan waktu 8 bulan, semua pengeluaran dan pemasukan dilaporkan secara gamblang dan terbuka. Alhasil, tidak hanya tersedia dana abadi untuk organisasi tersebut sebesar Rp 500 juta, tapi juga dapat menyisihkan untuk persediaan dana lainnya di tubuh internal GMKI untuk digunakan sebaik-baiknya. BTY

Berita Terkait