Pemimpin Bangsa dan Optimisme

• Oleh: Jonro I. Munthe, S.Sos 213 dibaca
• Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU.

Beritanarwastu.com. Menjelang Pilkada Serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini, isu yang paling menarik dicermati sekarang adalah seputar calon presiden (Capres) 2019. Sudah mulai muncul wacana dan berita-berita di media massa dan media sosial (medsos) bahwa di Pilpres 2019 Presiden RI cukup satu periode alias harus diganti. Disebut-sebut pula bahwa Indonesia butuh pemimpin yang kuat dan tangguh agar bangsa ini semakin makmur dan sejahtera.

          Di sisi lain, terutama para pendukung Presiden RI Ir. H. Joko Widodo pun dengan kreatif membuat spanduk-spanduk dan kaos-kaos bahwa Presiden RI harus lanjut dua periode, karena kepemimpinannya telah terbukti dengan maraknya pembangunan infrastruktur dari Aceh hingga Papua. Dan ini sangat berpengaruh dalam pemerataan ekonomi dan pembangunan kesejahteraan rakyat. Bahkan ada pula yang membuat tulisan di kaos agar Capres RI lawan Jokowi (incumbent) sebaiknya yang baru, jangan yang itu lagi.

           Menarik mencermati fenomena politik Indonesia saat ini. Dan kita sebagai warga negeri ini dan umat Kristiani yang cinta bangsa ini tentu berharap agar Indonesia di tahun 2019 pasca Pilpres 2019 atau Pemilu 2019 akan semakin baik, semakin damai, semakin sejahtera, semakin makmur dan semakin adil. Anak-anak bangsa ini tentu banyak yang berdoa agar saat digelar Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 suasana negeri ini aman, damai dan kondusif.

           Kita berharap agar tidak terjadi lagi ketegangan rakyat akibat politik, seperti kala diadakan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Ketika itu aksi-aksi demo begitu menegangkan, dan isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) pun begitu massif, hingga akhirnya Gubernur DKI Jakarta incumbent, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok yang awalnya menang di putaran pertama mesti kalah tragis di putaran kedua karena diserang dengan isu SARA. Tak hanya itu, Ahok masuk penjara karena dituduh menista agama. Sebelumnya demo-demo yang cukup menegangkan sudah terjadi untuk meminta Ahok agar ditangkap dan dipenjarakan.

          Menurut Ketua Umum PB NU, KH Said Aqil Siradj, aksi demo yang luar biasa menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu adalah ujian besar bagi bangsa ini. Dan ia bersyukur bangsa ini tak terpecah belah akibat aksi-aksi politik itu, yang katanya, memang ada politisi berada di belakangnya. Dan NU yang dipimpin Said Aqil, katanya, akan terus mempertahankan NKRI dan keutuhan bangsa ini dengan ideologi Pancasila.

           Sepanjang tahun 2016 hingga tahun 2019 ini memang bangsa ini rasanya penuh dengan ketegangan politik. Sehingga kita berharap agar setiap anak bangsa, termasuk pemimpin partai politik, pemuka agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan cendekiawan ikut serta dalam menjaga atau merawat negeri ini agar tetap damai, aman dan kondusif serta tidak mengalami disintegrasi. Kita pun mengharapkan agar pemerintah bersama TNI dan POLRI tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengedepankan hukum sebagai panglima. Bukan politik atau tekanan massa sebagai panglima.

            Indonesia adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi kita, sehingga kita harus ikut berpartisipasi menjaga keutuhan bangsa ini dengan menghargai pluralisme. Dan yang tak kalah pentingnya, kita mesti terus memanjatkan doa kepada Tuhan agar bangsa ini selalu di dalam penjagaanNya. Karena kita imani bahwa doa-doa orang benar sangat besar kuasanya dan didengar Tuhan. Jadi doa punya kekuatan dahsyat, sehingga kita mesti terus berdoa bersama keluarga dan komunitas kita untuk kebaikan negeri ini.

            Tokoh Kristiani, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th kepada Majalah NARWASTU menuturkan, di tengah bangsa ini, apalagi dalam menyambut Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 kita harus terus menyuarakan suara kenabian. "Tak usah takut bicara benar. Dan banyak orang pintar di Indonesia ini, namun mereka tidak punya daya untuk menyuarakan pemikiran atau sikapnya yang baik dan benar untuk kemajuan bangsa ini. Kalau Jokowi kita lihat bagus, maka tak ada alasan untuk tidak mendukungnya,” ujarnya.

            “Orang baik dan orang yang punya hati untuk memperbaiki keadaan bangsa ini mesti kita dukung. Tak usah takut menyuarakan yang baik dan benar. Gereja-gereja pun harus bersikap untuk mendukung orang yang baik dan benar. Termasuk calon-calon legislatif (caleg) yang tampil kita harapkan agar mereka benar-benar yang cinta Indonesia, takut akan Tuhan dan berani berkorban untuk negeri ini," ujar mantan Bendahara Umum PGI dan mantan Bendahara Umum DPP PARKINDO di era Sabam Sirait itu.

       Benar apa yang disampaikan Pdt. Suyapto yang juga Bendahara Umum Sinode BPH GBI dan mantan Caleg DPR-RI bahwa suara nabiah itu harus terus disuarakan di negeri ini. Dan Indonesia pun sebuah negara majemuk dan kaya raya serta harus kita rawat agar ke depan semakin baik, sejahtera, rukun dan makmur. Dan untuk melakukan tugas mulia itu dibutuhkan orang-orang baik dan benar di negeri ini serta figur yang punya integritas, kapasitas dan mau berkorban bagi negeri ini. Semoga.

Berita Terkait