Seminar dan KKR Yayasan ABB, Fisipol UKI dan Lentera Bangsa Untuk Percerdasan dan Pencerahan Rohani di NTT

1031 dibaca
Acara seminar soal karakter di Kupang. Tampak moderator Pdt. Dr. Abdon Amtiran, M.Th (kanan).

Beritanarwastu.com. Bagi Pdt. Dr. Sarah Fifi, S.Th, M.Si, tiada hari tanpa melayani dan memuliakan nama Tuhan Yesus. Ketua Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB) dan Gembala Sidang Gereja Kristen Getsemani (GKG) Jemaat Anugerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini tak pernah lelah melayani orang-orang yang menderita atau kurang beruntung. Selain pernah membantu korban bencana alam di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kepulauan Mentawai, sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas), dan melayani kaum gelandangan lewat pengobatan gratis, baru-baru ini pun ia bersama timnya melayani di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kali ini, Pdt. Sarah Fifi yang juga mantan Ketua Bidang Teologi DPP PIKI dan dosen STT IKAT, Jakarta, mengadakan seminar dan KKR (kebaktian kebangunan rohani) pada 28-30 April 2016 lalu lewat kerjasama Yayasan Apostel Bangun Bangsa, Fisipol UKI (Universitas Kristen Indonesia), Jakarta, dan Lentera Bangsa. Tim yang dipimpin Pdt. Sarah Fifi yang juga salah satu Penasihat/Pembina Majalah NARWASTU ini lebih dulu mengadakan seminar bertajuk “Peran Umat Kristen dalam Membangun Karakter Bangsa” di kota Kupang.
Seminar yang diadakan di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, itu dihadiri lebih dari 300 guru. Guru-guru dipilih sebagai peserta seminar, karena guru-guru adalah agen perubahan di sebuah bangsa. Dari tangan gurulah lahir generasi penerus yang cerdas, sehat, bermoral dan berprestasi. Guru dan keluarga adalah dua hal penting di dalam kehidupan yang berperan penting melahirkan generasi masa depan di negeri ini.
Dalam seminar ini, tampil sebagai pembicara rohaniwan dan intelektual, yaitu Pdt. Dr. Lasino (Ketua I STT IKAT) yang berbicara “Peranan Gereja dalam Membangun Karakter Bangsa”, Pdt. Yetty Leyloh, S.Th, M.Hum (Dosen Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang), Pdt. Dr. Sarah Fifi berbicara “Peranan Keluarga dalam Membangun Karakter Bangsa” dan moderator Pdt. Dr. Abdon Amtiran, M.Th (Dosen dan Sekretaris Pascasarjana STT IKAT, Jakarta) di sesi pertama.
Di sesi kedua, tampil sebagai pembicara, Angel Damayanti, M.Si, M.Sc (Dekan Fisipol UKI, Jakarta dan Wakil Sekjen DPP PIKI) dan Dr. Haryoseno (Pengusaha) berbicara “Peran Pengusaha dalam Membangun Karakter Bangsa.” Dalam acara ini pula sebelumnya Pdt. Yahya Iskandar, M.Th yang menyampaikan renungan kebenaran Firman Tuhan.
Pdt. Sarah Fifi menerangkan, kenapa soal karakter yang dibahas. Sebab, karakter itu kebiasaan yang berulang-ulang. Menurut ilmu psikologi, kalau seseorang anak sudah berusia 17 tahun, maka karakternya yang buruk atau kurang baik akan sulit berubah. Misalnya, kalau ada anak yang suka merokok, minum alkohol atau terlibat kenakalan remaja, maka itu harus perlu dilayani dan diberi perhatian. “Di dalam nama Yesus yang kita sembah, karakter buruk seorang anak bisa berubah dari buruk menjadi baik. Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan sesuatu yang sulit, karena ada kuasa yang ajaib dari Dia,” ujar Hamba Tuhan yang juga giat memberi pencerdasan kepada kaum ibu rumah tangga ini, termasuk soal delapan kecerdasan bagi kaum perempuan.
Menurutnya, guru adalah elemen penting di dalam sebuah bangsa, sehingga dengan interaksi yang intens dan baik dengan mereka (kaum guru) lewat sebuat seminar, maka guru akan semakin termotivasi untuk melahirkan generasi-generasi muda yang berkualitas dan beriman tangguh di negeri ini. “Untuk mendidik generasi muda supaya tangguh dan beriman, maka perlu peran pendidikan atau sekolah, dan guru-guru di sini harus kita perhatikan. Selain pendidikan agar sumber daya manusia (SDM) anak semakin berkualitas, maka perlu pembekalan spiritualitas atau iman yang tangguh,” paparnya.
Seusai acara seminar, selanjutnya tim yang dipimpin Pdt. Sarah Fifi dan Pdt. Abdon Amtiran melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka adat di Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang. Dari pendekatan tersebut kemudian disepakati untuk mengadakan sebuah ibadah pencerahan iman atau KKR yang diadakan di sebuah lapangan di desa yang dihuni 1.600 jiwa dan berada di pinggir pantai itu. Pendekatan dilakukan dengan kepala desa setempat, Abdon Matta dan tokoh masyarakat yang disegani Yahya Ampiran.
Supaya jangan muncul prasangka yang kurang baik, Pdt. Abdon Amtiran menegaskan kepada tokoh-tokoh adat dan kepala desa Merbaun bahwa tim pelayanan dari Jakarta ini tak ada niat untuk membangun gereja, tapi justru ingin membantu masyarakat setempat agar semakin berkualitas di dalam pendidikan. “Bahkan, kami punya mimpi di sana untuk membangun sekolah SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. Dan ini terus kita doakan. Karena baru sekolah SD saja yang ada di sana. Desa ini dihuni 100 persen umat Kristen dan anggota jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili Timor),” kata Pdt. Abdon yang juga Ketua PGI Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Sekadar tahu, Desa Merbaun adalah sebuah desa yang khas. Masyarakatnya hidup dengan beternak sapi, menanam jagung, kelapa dan punya potensi alam yang luar biasa karena berada di bibir pantai. Sehingga sangat potensial dijadikan sebagai tempat wisata alternatif.  “Tim kami itu lintas gereja. Dan sebelum KKR di sana, bersama Pak Pdt. Abdon Amtiran, kami tentu melakukan pendekatan kepada tua-tua adat di daerah itu, dan kita hargai budaya lokal di sana. Selain itu, tim yang berasal dari lintas gereja, termasuk di dalamnya ada tokoh kita Pak Pdt. Dr. Matheus Mangentang (Rektor STT SETIA dan Ketua Umum Sinode GKSI), juga mengadakan doa dan puasa. Kami mengharapkan acara ini agar memuliakan Tuhan dan tak ada niat kami untuk mengambil kemuliaan Tuhan. Kami hanya alat Tuhan untuk memberitakan kabar baikNya,” papar Pdt. Sarah Fifi dengan bijaksana.
Kalau ada pengusaha yang terlibat di dalam tim pelayanan ini, kata Pdt. Sarah Fifi, “Mereka sering saya sebut PDT: pengusaha dalam Tuhan. Karena mereka dengan tulus dan ikhlas mau memberikan berkat dan hati serta waktu mereka untuk memperhatikan orang-orang yang kurang beruntung. Banyak sekarang pengusaha Kristen yang sukses, dan saya kira mereka perlu kita gugah agar lebih peduli memperhatikan kantong-kantong Kristen yang masih kesulitan dalam hal pendidikan, tempat ibadah, perekonomian dan akses untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Kalau pengusaha punya berkat, itu juga titipan Tuhan bagi mereka untuk disalurkan.”
Acara KKR yang dihadiri lebih dari 500 warga Desa Merbaun itu terasa khusuk dan reflektif. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Dr. Haryoseno tentang keselamatan dari Tuhan, dan Angel Damayanti yang bicara soal pemulihan hidup dengan Tuhan dan pilihan menentukan hidup di masa depan, diisi pula dengan lagu-lagu gerejawi yang meneguhkan iman. Ada pula ditampilkan kesaksian oleh pengusaha dari Jakarta, Sammy Menawati dan Sopia Koswara. Mereka bersaksi tentang kuasa dan kasih Tuhan Yesus yang mampu mengubah yang buruk menjadi baik dengan ajaib.
Ada pula kesaksian dari jemaat yang hadir, bahwa yang tadinya kakinya sakit saat hadir ke acara KKR, dan matanya rabun, setelah mendapat lawatan dari Tuhan di acara tersebut merasakan pemulihan kesehatan. “Banyak yang kita doakan warga di sana agar mereka mendapat pemulihan yang baik di dalam rumah tangga dan kesehatan serta iman. Agar anak-anak muda yang suka menenggak alkohol pun mendapat pemulihan dan meninggalkan kebiasaan buruk, serta agar setiap rumah tangga hidup harmonis dan tidak terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga,” papar Pdt. Sarah Fifi.
Sekitar tiga jam acara KKR itu berlangsung, dan banyak jemaat yang bersukacita dan imannya diteguhkan. Dari situ, Pdt. Matheus Mangentang dan tim menuju Kabupaten Soe, untuk mengadakan acara seminar dan KKR bagi jemaat. Perjalanan dari Kota Kupang ke Kabupaten Soe memakan waktu sekitar 2 jam. Sedangkan tim lainnya melayani ke gereja-gereja lokal di Kupang. 
Menurut Pdt. Sarah Fifi, kunjungan pelayanan ke Kupang atau NTT tak berhenti di situ. Ada lagi upaya mereka untuk membangun sekolah di sana agar pendidikan anak-anak di sana semakin meningkat. Bahkan, ada upaya untuk membina anak-anak muda yang pernah menjadi korban narkoba yang sudah direhabilitasi agar dididik khusus, sehingga mereka punya kepercayaan diri ketika bergaul di tengah masyarakat. 
“Pendidikan dan membangun iman jemaat sangat penting untuk membangun sebuah masyarakat agar maju dan makmur,” ujar Pdt. Sarah Fifi yang termasuk dalam jajaran “20 Tokoh Kristiani 2008 Pilihan NARWASTU.”
Ibu yang masih tampak cantik dan enerjik ini, dalam pelayanannya sempat terjatuh di bandara di Kupang saat akan kembali ke Jakarta, sehingga kakinya sempat digips. Meski demikian Ibu Pendeta yang sudah punya cucu ini tak pernah lelah untuk melayani Tuhan. Semangatnya terus berkobar untuk menginjil. NU    




Berita Terkait