Wakil Gubernur DKI Berdiskusi di Kantor PGI Wilayah DKI Jakarta

616 dibaca
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat saat hadir di acara PGI Wilayah DKI Jakarta yang dipelopori Komisi Germaspol PGI Wilayah DKI Jakarta yang dipimpin Ir. Albert Siagian, M.M.

BERITANARWASTU.COM. PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah DKI Jakarta, dalam hal ini Komisi Germaspol (Gereja, Masyarakat dan Politik) yang dipimpin Ir. Albert Siagian, M.M. yang juga mantan Wakil Ketua Umum DPP GAMKI dan pengurus FORKOM NARWASTU pada Senin malam, 17 Oktober 2016 lalu, menggelar diskusi bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat. Diskusi yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga 21.30 WIB itu digelar di kantor PGI DKI Jakarta di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

 Djarot Saiful Hidayat dalam diskusi ini berbicara tentang “Jakarta Milik Siapa?”, dan dihadiri puluhan  aktivis gereja, cendekiawan, wartawan, pengurus FORKOM NARWASTU dan pimpinan ormas Kristen. Menurut Djarot, pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada awal 2017 ini, betul-betul menyedot perhatian. Bukan saja di tengah masyarakat Jakarta, tetapi juga dunia internasional. Dan yang sangat menentukan, kata kader PDI Perjuangan ini, bukan hanya arah perpolitikan Indonesia ke depan, tetapi lebih menentukan apakah bangsa kita betul-betul sudah menerima dan melaksanakan di dalam perilaku dan perkataannya tentang ideologi Pancasila. Masyarakat Jakarta, menurut Djarot, sekarang betul-betul diuji, bagaimana menjalankan agama dan budayanya.

Sepanjang ini, apakah kita benar-benar menjadikan nilai-nilai Pancasila nyata dalam kehidupan berbangsa. Kata Djarot, ada berbagai sumber yang mengatakan, DKI Jakarta harus dipimpin oleh perpaduan antara figur  berlatar belakang sipil dan militer. Juga harus asli orang Jakarta yang lama tinggal di Jakarta. Tetapi mengenai pandangan itu, Djarot mengatakan tidak sependapat. Karena, ujar Djarot, hanya orang yang mau bekerja keras yang mampu memimpin DKI Jakarta. Terbukti pasangan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa menang di Pilkada DKI Jakarta 2012 dengan bekerja keras di tengah pertarungan yang ketat.

 

 

 

“Dan saya yakin masyarakat Jakarta betul-betul sudah punya kedewasaan di dalam berpolitik. Dan kedewasaan di dalam menentukan pilihan, dan kedewasaan di dalam mewujudkan harapan-harapan yang selama ini didambakan. Situasi di lapangan pada saat itu, mereka menginginkan adanya perubahan besar di Jakarta. Dan harapan itu diletakkan pada pundak Jokowi dan Basuki. Dan peristiwa pentingnya, lalu Jokowi naik menjadi Presiden RI, Basuki menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan saya menjadi Wakil Gubernur DKI,” kata Djarot.

Menurut Djarot, kalau bangsa Indonesia ingin maju ada tiga unsur yang harus diperhatikan. Pertama,  budaya. Karena budaya masuk di Indonesia sudah ribuan tahun lalu, sebelum ada agama. Budaya sudah ada di Indonesia, lalu kenapa agama begitu beragam masuk di Indonesia. Karena Indonesia letaknya secara geopolitis  berada di persimpangan antara dua samudra dan dua benua. Di sinilah agama-agama bercampur dengan budaya masyarakat kita. Ada Budha, Hindu, Kristen, Islam dan Konghucu. Semua agama masuk ke Indonesia dan bercampur dengan budaya lokal, dan semua menyatu,” pungkas salah satu Ketua DPP PDI Perjuangan ini

Kedua, agama. Harus dipahami bahwa agama Islam tidak identik dengan Arab Saudi, dan Kristen tidak identik dengan Yahudi. Dan Hindu tidak identik dengan India, dan Konghucu tidak identik dengan Tiongkok. “Tetapi semua identik dengan Indonesia. Nilai-nilai seperti inilah yang harus dihargai,” ujar mantan Wali Kota Blitar, Jawa Timur, berpenampilan tenang dan sejuk ini.

Ketiga, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini harus dikembangkan. Contohnya dengan menggunakan IT, (teknologi informasi). Semuanya, kata Djarot, menggunakan elektronik dalam menghitung. Misalnya, menghitung budgeting, menghitung planning, dan lain-lain. Tujuannya supaya tidak ada korupsi, karena tidak mungkin orang menyuap sistem, karena di DKI Jakarta pelaku korupsi sudah membudaya. JK

 

Berita Terkait